Biaya Keamanan Siber yang Semakin Mahal bagi Perusahaan di Inggris

Sepanjang tahun 2025, ancaman siber menjadi salah satu masalah terbesar bagi perusahaan di Inggris. Serangan hacker tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga semakin mahal dampaknya. Banyak perusahaan mengalami kerugian besar akibat pencurian data, ransomware, hingga gangguan operasional yang membuat bisnis berhenti berjalan.

Kondisi ini membuat banyak organisasi mulai menyadari bahwa keamanan siber bukan lagi hanya urusan tim IT, tetapi menjadi bagian penting dari strategi bisnis. Perusahaan yang tidak siap menghadapi serangan siber berisiko kehilangan uang, reputasi, bahkan kepercayaan pelanggan.

Kerugian Akibat Serangan Siber Terus Meningkat

Pada tahun 2025, rata-rata biaya kebocoran data di Inggris mencapai sekitar £3,78 juta atau setara puluhan miliar rupiah untuk satu insiden saja. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya dampak serangan siber bagi perusahaan modern.

Beberapa perusahaan retail besar dan industri manufaktur di Inggris bahkan mengalami kerugian hingga ratusan juta poundsterling akibat serangan siber. Awalnya mungkin hanya terlihat sebagai masalah teknis, tetapi akhirnya berkembang menjadi krisis bisnis besar yang memengaruhi seluruh operasional perusahaan.

Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari kehilangan data, tetapi juga dari:

  • Gangguan operasional bisnis

  • Hilangnya kepercayaan pelanggan

  • Biaya pemulihan sistem

  • Denda regulasi

  • Penurunan reputasi perusahaan

  • Kehilangan peluang bisnis

Jumlah Serangan Siber Semakin Banyak

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris melaporkan peningkatan besar dalam jumlah serangan siber selama tahun 2025.

Dalam periode satu tahun, tercatat lebih dari 200 serangan siber besar terhadap organisasi penting di Inggris. Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, serangan terhadap infrastruktur penting seperti energi, layanan kesehatan, transportasi, dan industri strategis juga ikut meningkat. Serangan pada sektor-sektor ini bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Banyak pakar keamanan kini percaya bahwa kemampuan serangan siber dari negara-negara tertentu sudah cukup kuat untuk menyebabkan gangguan besar terhadap infrastruktur penting dunia.

Ransomware Menjadi Ancaman Paling Mahal

Salah satu jenis serangan yang paling merugikan adalah ransomware. Dalam serangan ini, hacker mengenkripsi data perusahaan lalu meminta tebusan agar data bisa dibuka kembali.

Pada tahun 2025:

  • Rata-rata kerugian global akibat ransomware mencapai lebih dari £4 juta per insiden

  • Beberapa perusahaan di Inggris bahkan membayar tebusan hingga £5,6 juta

  • Sebagian perusahaan lainnya membayar lebih besar lagi

Masalahnya, membayar tebusan tidak selalu menjamin data akan kembali dengan aman. Banyak perusahaan tetap mengalami kerusakan sistem meskipun sudah membayar hacker.

Selain itu, uang tebusan yang dibayar justru digunakan penjahat siber untuk mendanai serangan berikutnya.

Semakin Lama Ancaman Terdeteksi, Semakin Mahal Biayanya

Salah satu faktor yang membuat kerugian semakin besar adalah keterlambatan mendeteksi serangan.

Data menunjukkan bahwa:

  • Serangan yang berhasil ditemukan dalam waktu kurang dari 200 hari memiliki biaya rata-rata sekitar £2,9 juta

  • Jika serangan baru diketahui setelah lebih dari 200 hari, kerugiannya meningkat menjadi sekitar £3,76 juta

Artinya, semakin lama hacker bersembunyi di dalam sistem perusahaan, semakin besar kerusakan yang bisa mereka lakukan.

Inilah alasan mengapa perusahaan modern mulai fokus pada keamanan siber yang proaktif, yaitu mendeteksi ancaman sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah besar.

Banyak Perusahaan Ternyata Belum Siap

Meskipun ancaman terus meningkat, banyak organisasi ternyata belum benar-benar siap menghadapi serangan siber besar.

Secara global, hanya sekitar 33% pemimpin IT yang merasa perusahaannya benar-benar siap menghadapi serangan siber skala besar.

Hal ini menunjukkan adanya “kesenjangan kesiapan” antara ancaman nyata di lapangan dengan kemampuan perusahaan dalam melindungi diri.

Banyak organisasi masih menggunakan pendekatan lama yang bersifat reaktif, yaitu baru bertindak setelah serangan terjadi.

Padahal, model seperti ini sudah tidak cukup lagi menghadapi ancaman modern yang bergerak sangat cepat.

Apa Itu Cyber Exposure Management (CEM)?

Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak perusahaan mulai menerapkan pendekatan baru bernama Cyber Exposure Management atau CEM.

Secara sederhana, CEM adalah strategi keamanan yang membantu perusahaan memahami:

  • Aset digital apa saja yang dimiliki

  • Sistem mana yang paling berisiko

  • Ancaman apa yang sedang aktif

  • Prioritas perbaikan yang paling penting

CEM bekerja dengan menggabungkan visibilitas, analisis risiko, dan tindakan perbaikan dalam satu sistem yang terintegrasi.

Pendekatan ini membantu perusahaan berpindah dari keamanan yang reaktif menjadi proaktif.

Peran AI dalam Keamanan Siber

Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga mulai membantu perusahaan meningkatkan keamanan siber mereka.

Data menunjukkan bahwa perusahaan yang menggunakan sistem keamanan berbasis AI mengalami biaya kebocoran data yang lebih rendah dibanding perusahaan yang belum menggunakannya.

Rata-rata:

  • Perusahaan dengan bantuan AI mengalami kerugian sekitar £2,6 juta

  • Perusahaan tanpa AI mengalami kerugian sekitar £4 juta

AI membantu dengan cara:

  • Memantau ancaman secara otomatis

  • Mendeteksi aktivitas mencurigakan lebih cepat

  • Membantu analisis risiko

  • Mempercepat respons saat terjadi serangan

Dengan bantuan AI, perusahaan bisa mengurangi waktu deteksi dan meminimalkan dampak kerusakan.

Keamanan Siber Menjadi Prioritas Utama di 2026

Memasuki tahun 2026, perusahaan di Inggris mulai menyadari bahwa keamanan siber bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama.

Organisasi yang memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh sistem IT, cloud, IoT, dan operasional mereka akan lebih siap menghadapi ancaman modern.

Perusahaan juga mulai memahami bahwa investasi pada keamanan siber sebenarnya jauh lebih murah dibanding biaya kerugian akibat serangan.

Kesimpulan

Ancaman siber di Inggris terus meningkat baik dari sisi jumlah maupun dampak finansialnya. Serangan ransomware, kebocoran data, dan gangguan sistem kini menjadi risiko besar bagi perusahaan modern.

Banyak organisasi mulai beralih ke pendekatan keamanan yang lebih proaktif seperti Cyber Exposure Management (CEM) dan penggunaan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi serta respons terhadap ancaman.

Di era digital saat ini, keamanan siber bukan hanya soal melindungi data, tetapi juga menjaga kelangsungan bisnis, reputasi perusahaan, dan kepercayaan pelanggan.

armis Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi armis.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.