Keamanan Air Sedang Terancam: Mengapa CTEM Menjadi Penyelamat bagi Infrastruktur Kritis

Dua belas tahun yang lalu, insiden keamanan di Bendungan Bowman membuka mata dunia tentang betapa rentannya sistem air kita. Walaupun kejadian itu sudah lama berlalu, kenyataannya sedikit sekali perubahan yang terjadi. Teknologi semakin maju, pelaku kejahatan siber semakin cerdas, dan risiko semakin besar. Namun, pertahanan kita terhadap serangan justru masih tertinggal.

Saat ini, dibutuhkan sedikit sekali usaha untuk menyebabkan kerusakan besar. Satu perubahan pengaturan pada sistem SCADA saja bisa membuat air minum menjadi berbahaya. Gangguan kecil pada fasilitas pengolahan air limbah dapat mengubah limbah menjadi ancaman biologis. Ini bukan sekadar teori—kejadian seperti ini telah terbukti bisa terjadi. Apalagi sekarang, dengan adanya AI yang memperkuat kemampuan penyerang, mereka dapat membuat celah keamanan langsung di tingkat kode dan melakukan serangan dalam skala besar. Sementara itu, tim keamanan masih berjuang mengejar ketertinggalan.


Negara-Negara Mulai Menjadikan Air sebagai Target Serangan

Contoh paling jelas terlihat di Eropa. Kelompok peretas yang terkait dengan Rusia berulang kali menyerang infrastruktur air—membuka katup, membanjiri sistem, bahkan memamerkan akses mereka di media sosial.

Di Polandia, perusahaan air menerima hingga 300 serangan per hari, tiga kali lipat dari tahun lalu. Intelijen Norwegia mengonfirmasi bahwa peretas pernah mengendalikan katup bendungan selama hampir empat jam. Di Amerika Serikat, para peretas yang diduga berasal dari Rusia menyebabkan tangki air di Texas meluap pada tahun 2024.

Ini bukan sekadar serangan iseng. Ini adalah “tes kapasitas”—mencari titik lemah pada sistem penting, terutama di kota kecil yang anggaran keamanannya terbatas. Setiap serangan yang berhasil merusak kepercayaan publik dan menunjukkan betapa lemahnya sistem air yang kita andalkan.


Mengapa “Inventaris Aset” Tidak Lagi Cukup

Beberapa minggu lalu, CISA kembali menyerukan agar semua operator infrastruktur kritis membuat inventaris aset OT yang lengkap. Ini memang penting, tetapi harus diakui bahwa pelaku serangan dan pakar keamanan sebenarnya sudah melangkah jauh ke depan.

Inventaris aset hanya memberi tahu apa saja perangkat yang ada. Namun itu tidak menjelaskan mana yang rentan, bagaimana perangkat-perangkat tersebut terhubung, risiko mana yang paling berbahaya, dan jalur mana yang mungkin digunakan penyerang untuk bergerak dalam jaringan.

Sementara itu, AI yang digunakan penyerang berkembang jauh lebih cepat. Negara-negara menggunakan AI untuk menemukan kelemahan dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi manusia, membuat malware yang sulit dikenali, bahkan menyisipkan kode berbahaya ke dalam proyek open-source.

Jika tim keamanan masih sibuk mencatat daftar aset, berarti mereka sudah tertinggal jauh.


CTEM: Model yang Kita Butuhkan Sekarang

Di sinilah peran Cyber Threat Exposure Management (CTEM). CTEM bukan sekadar membuat daftar aset. CTEM bertujuan untuk menilai, memvalidasi, dan memprioritaskan risiko secara terus-menerus, sehingga fasilitas air dapat bertindak sebelum negara lain menjadikan air sebagai senjata.

Berikut adalah lima praktik CTEM yang wajib diterapkan fasilitas air saat ini:


1. Visibilitas Menyeluruh Melampaui IT

80% perusahaan air mengaku tidak memiliki inventaris aset siber yang lengkap. OT dan SCADA tidak boleh dianggap “terlalu sensitif untuk disentuh.” Teknologi saat ini memungkinkan pengecekan aset secara aman tanpa mengganggu operasi.

Fasilitas air membutuhkan visibilitas menyeluruh pada sistem IT, OT, IoT, dan BMS disertai konteks risiko real-time.


2. Prioritas Risiko Secara Berkelanjutan

Tidak semua kerentanan sama pentingnya.

Contoh:
PLC pengontrol katup dengan CVE yang belum diperbaiki jauh lebih berbahaya dibandingkan pelanggaran password di komputer kantor.

CTEM memastikan risiko diprioritaskan berdasarkan dampaknya pada keselamatan dan ketersediaan air.


3. Validasi Jalur Serangan

Negara-negara mencoba menembus sistem melalui jalur lateral. Fasilitas air harus melakukan hal yang sama—menguji bagaimana penyerang mungkin berpindah dari sistem IT ke OT.

Pada serangan di Texas tahun 2024, peretas tidak perlu menguasai seluruh sistem; mereka hanya memanfaatkan celah antara IT dan OT untuk membuat tangki meluap.


4. Deteksi dan Threat Hunting Berbasis AI

Jika penyerang menggunakan AI, maka pembela harus menggunakannya juga. Deteksi statis tidak cukup ketika serangan dapat berubah-ubah dalam hitungan detik.

CTEM menyediakan kemampuan deteksi dini dan analisis berbasis AI.


5. Tata Kelola dan Rencana Ketahanan

70% fasilitas air tidak memiliki rencana respons insiden yang teruji. CTEM memastikan bahwa proses, kebijakan, dan sumber daya siap menghadapi gangguan.

Ini mencakup simulasi serangan, evaluasi risiko rantai pasok, dan rencana pemulihan.


Risikonya Terlalu Besar untuk Diabaikan

Air adalah sumber kehidupan. Tetapi dalam era konflik siber antarnegara, air juga menjadi senjata yang paling mudah digunakan. Kita tidak bisa menunggu hingga terjadi insiden besar berikutnya untuk menyadari bahwa inventaris aset saja tidak akan menyelamatkan kita.

CTEM memberi fasilitas air kerangka kerja untuk bergerak melampaui sekadar “melihat” menuju ketahanan nyata—di mana risiko dapat dipantau, diprioritaskan, dan ditangani sebelum dimanfaatkan oleh penyerang.

Jika fasilitas air tidak meningkatkan pertahanannya sekarang, para penyerang akan terus menjadikan sistem air kita sebagai tempat uji coba. Dan itu adalah risiko yang tidak boleh kita biarkan.


Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!