Perlombaan Senjata AI: Apa Arti Laporan Armis Cyberwarfare 2025 bagi Praktisi Keamanan

Edisi ketiga dari Armis Cyberwarfare Report 2025 menyajikan gambaran yang mengkhawatirkan. Perang siber saat ini ditandai dengan meningkatnya serangan yang disponsori negara, penggunaan AI sebagai senjata, dan fokus serangan yang semakin mengarah pada infrastruktur penting seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam laporan tahun ini, 87% pengambil keputusan di bidang TI menyatakan khawatir terhadap dampak perang siber—naik tajam dari 54% tahun sebelumnya. Hal ini bukan hanya karena instabilitas politik global, tetapi juga karena AI telah mengubah secara mendasar lanskap ancaman siber—baik di dunia fisik maupun digital.

Sebagai praktisi keamanan, kita harus bertanya: apa dampak potensialnya? Bagaimana kita harus menyesuaikan strategi pertahanan di dunia di mana AI digunakan oleh penyerang dan juga pembela? Laporan ini memberikan wawasan penting, bukan hanya tentang perubahan pola serangan, tetapi juga tentang perlunya pergeseran besar dalam strategi keamanan siber.


Harapan vs Realita

Laporan ini menyoroti kontras antara cita-cita keamanan dan kenyataan di lapangan: 81% pemimpin TI ingin sistem keamanannya bersifat proaktif, namun 58% mengakui bahwa mereka masih bertindak secara reaktif. Tantangan seperti konsolidasi pasar, regulasi, dan celah keamanan lama membuat organisasi tetap rentan.

Meskipun ada minat yang besar terhadap keamanan berbasis AI, setengah dari tim TI belum memiliki keahlian untuk mengimplementasikannya secara efektif. Ancaman dari negara seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara tetap menjadi perhatian utama, dengan 72% pemimpin TI khawatir kemampuan siber negara-negara ini bisa memicu perang siber skala penuh.
Michael Freeman dari Armis menegaskan bahwa menutup kesenjangan antara niat dan kesiapan adalah hal yang penting—dan solusi berbasis AI adalah kunci untuk memperkuat pertahanan sebelum ancaman perang siber berikutnya muncul.
Yang lebih penting lagi, tim keamanan harus melampaui sekadar visibilitas aset—mereka harus benar-benar memetakan dan mengamankan seluruh permukaan serangan, termasuk cloud, aplikasi SaaS, dan infrastruktur hybrid.


Runtuhnya Keamanan Berbasis Perimeter

Laporan ini juga menunjukkan fakta penting lainnya: arsitektur keamanan tradisional tidak lagi memadai. Penyerang sekarang menggunakan AI untuk melewati sistem keamanan yang ada, dan 85% pemimpin TI melaporkan bahwa teknik penyerangan sering kali berhasil menembus alat keamanan yang mereka gunakan.

Phishing masih menjadi teknik utama untuk menembus pertahanan di negara seperti Prancis, AS, dan Italia, sementara pencurian kredensial dan serangan brute-force lebih umum di Jerman.

Kita sudah lama tahu bahwa pendekatan keamanan berbasis perimeter sudah usang. Permukaan serangan modern—mencakup IT, OT, dan IoT—memerlukan pendekatan baru: pemantauan berkelanjutan (CTEM), intelijen ancaman real-time, dan deteksi anomali berbasis AI. Jika tim keamanan belum menggunakan AI untuk berburu ancaman secara proaktif—termasuk pada cloud dan aplikasi penting—maka mereka sudah tertinggal.


Perang Siber adalah Ancaman Ekonomi dan Sosial

Temuan paling mengkhawatirkan dalam laporan ini adalah dampak finansial dan operasional dari perang siber. Pembayaran tebusan (ransomware) semakin tinggi, dengan rata-rata $10,1 juta per serangan di AS dan Australia. Industri penting seperti kesehatan, utilitas, dan manufaktur merasakan dampak paling berat dari serangan yang didukung AI.

Serangan ransomware terhadap Change Healthcare di tahun 2024, yang membocorkan data 190 juta warga Amerika, hanyalah contoh dari ancaman yang sedang kita hadapi sebagai komunitas keamanan.

Kita tidak lagi menghadapi isu keamanan TI biasa—ini sudah menjadi krisis ekonomi dan sosial. Bahkan, 75% pengambil keputusan TI percaya bahwa perang siber akan semakin menyasar lembaga-lembaga yang mewakili kebebasan pers dan pemikiran independen. Perang siber bukan hanya tentang keuntungan finansial atau spionase, tapi juga tentang mengguncang institusi demokratis, mempengaruhi pemilu, dan merusak kepercayaan publik.


Jalan ke Depan: Ketahanan Siber Berbasis AI

Jadi, apa langkah selanjutnya? Laporan ini jelas menunjukkan bahwa ancaman berbasis AI hanya bisa dilawan dengan pertahanan berbasis AI juga. Beberapa rekomendasi penting:

  • Beralih dari reaktif ke proaktif – Saat ini, 58% organisasi masih merespons serangan setelah terjadi. Tim keamanan perlu menerapkan model AI prediktif, sistem peringatan dini, dan deteksi anomali real-time untuk mencegah serangan sejak awal—baik di lingkungan IT, OT, IoT, maupun cloud.
  • Investasi pada intelijen ancaman berbasis AI – Organisasi membutuhkan visibilitas terhadap ancaman baru di permukaan digital dan dark web. AI bisa memberikan pemantauan berkelanjutan, penilaian risiko adaptif, dan respons otomatis yang tidak bisa dicapai oleh sistem tradisional.
  • Menutup kesenjangan keahlian AI – Setengah dari pemimpin TI mengakui kurangnya keahlian dalam keamanan AI. Maka dari itu, peningkatan keterampilan tim, penggunaan platform keamanan berbasis AI, dan otomatisasi threat hunting di semua jenis aset—termasuk cloud dan aplikasi—harus jadi prioritas.
  • Mengadopsi pendekatan Zero Trust – Di tengah meningkatnya serangan berbasis identitas yang didukung AI, arsitektur Zero Trust—di mana tidak ada pengguna, perangkat, atau aplikasi yang otomatis dipercaya—menjadi hal yang wajib.

Penutup: Seruan untuk Bergerak

Armis Cyberwarfare Report 2025 menandai titik balik penting dalam cara kita menjaga keamanan organisasi. Perang siber berbasis AI sedang meningkat, dan pendekatan lama yang reaktif, terpecah-pecah, dan tanpa visibilitas menyeluruh sudah tidak relevan lagi.

Ketahanan siber sejati memerlukan visibilitas penuh atas semua aset—IT, OT, IoT, dari darat hingga cloud—ditambah sistem deteksi dini untuk mencegah serangan sebelum terjadi.

Perang siber bukan lagi sekadar masalah keamanan TI—ini sudah menjadi risiko bisnis, ancaman terhadap keamanan nasional, dan tantangan bagi masyarakat. Organisasi yang tidak berkembang dari manajemen risiko statis akan menanggung kerugian finansial, dan bahkan bisa menjadi korban dalam era konflik digital ini.

Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, Anda bisa mendapatkan solusi IT lengkap yang sesuai dengan kebutuhan Anda. iLogo Indonesia sebagai mitra terpercaya siap mengintegrasikan semuanya agar bisnis Anda tetap berjalan lancar dan aman.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!