Skip to content
  • Beranda
  • Armis Centrix™
    • Armis Centrix™ for Asset Management and Security
    • Armis Centrix™ for Early Warning
    • Armis Centrix™ for Medical Device Security
    • Armis Centrix™ for OT/IoT Security
    • Armis Centrix™ for OT/IoT Security (On-Prem)
    • Armis Centrix™ for Vulnerability Prioritization and Remediation
  • Armis Labs
    • Armis Asset Intelligence Engine
    • Armis Centrix™ OT/ IoT Secure Remote Access (SRA)
    • Armis Centrix™ Smart Active Querying
    • Data Sources
    • Telemetry Intelligence
  • Blog
  • Hubungi Kami

Month: December 2025

December 9, 2025December 9, 2025

Peringatan: Memahami dan Mengurangi Risiko Kerentanan Microsoft Exchange Hybrid

Minggu lalu, CISA (Badan Keamanan Siber AS) mengeluarkan Arahan Darurat 25-02 mengenai kerentanan serius pasca-autentikasi (CVE-2025-53786) yang ditemukan dalam konfigurasi Microsoft Exchange hybrid-joined. Secara spesifik, kerentanan ini menargetkan sistem yang menghubungkan server Exchange on-premises (lokal) dengan Exchange Online di Microsoft 365. Jika penyerang mendapatkan akses administratif ke server Exchange lokal Anda (aset bernilai tinggi yang sering jadi sasaran), celah ini bisa memberi mereka jalan langsung ke lingkungan cloud Anda. Artinya, mereka dapat meningkatkan hak akses (privilege escalation) dan mengambil kendali signifikan atas M365 Exchange Online Anda. Dengan kata sederhana: jika server Exchange Anda disusupi, cloud Anda kini juga berisiko. Mengapa Ini Lebih dari Sekadar Masalah “Patching” Saya ingin tekankan bahwa ini bukan sekadar kerentanan “Patch Tuesday” biasa. Ini adalah pengingat betapa berbahayanya hubungan kepercayaan (trust) hybrid jika tidak dikelola dan dipantau dengan ketat secara real-time. Dalam dunia nyata, penyerang tidak peduli apakah titik masuknya adalah server lokal yang salah konfigurasi atau layanan web yang belum ditambal. Mereka peduli pada ke mana titik masuk itu bisa membawa mereka. Dalam kasus ini, titik masuknya adalah server Exchange lokal Anda. Jalan yang dibukanya adalah menuju cloud Anda. Dan karena email sering menjadi tulang punggung identitas dan akses di organisasi, peretasan pada level ini dapat berdampak meluas ke seluruh bisnis atau instansi Anda. Dari perspektif manajemen paparan siber (cyber exposure management), inilah skenario yang kami peringatkan: satu aset rentan bertindak sebagai pijakan (beachhead) di mana serangan dapat bergerak secara lateral antara lingkungan yang seharusnya terpisah. Apa yang Perlu Dilakukan Sekarang Arahan CISA menjelaskan langkah teknis dengan jelas: 1.  Jalankan Exchange Server Health Checker. 2.  Tentukan tingkat Cumulative Update Anda. 3.  Tambal dengan hotfix April 2025. 4.  Tingkatkan versi yang tidak didukung. 5.  Beralih ke aplikasi hybrid Exchange khusus yang baru di Entra ID. 6.  Jika Anda memiliki server yang tidak bisa ditambal (misalnya, yang sudah habis masa dukungan), putuskan segera dari jaringan. Itu panduan resminya. Tapi inilah realitas praktis yang saya tambahkan:    Jika Anda masih menjalankan “server Exchange terakhir” setelah memindahkan semua mailbox ke M365, sekaranglah waktunya untuk mematikannya. Server hybrid sisa itu seperti meninggalkan kunci apartemen lama Anda di bawah keset setelah pindah. Jangan berasumsi cloud Anda aman hanya karena itu “masalah Microsoft”. Hybrid berarti tanggung jawab bersama, dan kerentanan ini adalah pintu masuk bersama. Pemantauan harus real-time dan berkelanjutan. Waspadai tanda-tanda penyalahgunaan kredensial, akses mailbox yang tidak biasa, atau peningkatan hak akses, baik di lokal maupun di M365. Ini bukan hanya tentang menghentikan eksploitasi awal; ini tentang menangkap langkah kedua dan ketiga yang mungkin dilakukan penyerang. Gambaran yang Lebih Besar Masalah Exchange ini hanyalah yang terbaru dalam serangkaian insiden keamanan yang berdampak pada lingkungan hybrid. Saat organisasi “bertransformasi”, kita cenderung fokus mengamankan cloud, tetapi penyerang mencari tautan terlemah – dan seringkali, itu adalah infrastruktur warisan (legacy) atau yang “setengah bermigrasi”. Menambal (patching) dan hotfix sangat penting, tetapi itu tidak cukup sendiri. Di sinilah pendekatan manajemen paparan siber yang sebenarnya mengubah segalanya: Mengetahui secara tepat aset apa yang Anda miliki, bahkan yang terlupakan. Memahami hubungan kepercayaan antar sistem dan layanan. Menemukan dan secara aktif mengurangi jalur yang dapat diambil penyerang. Jika ada satu hal yang dapat Anda ambil dari peringatan ini, biarkan ini: setiap sistem lokal yang terhubung ke cloud Anda adalah jalur serangan potensial. Dan waktu terbaik untuk mengamankan jalur serangan adalah sebelum seseorang menggunakannya untuk melawan Anda. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More
December 9, 2025December 9, 2025

Keamanan Air Sedang Terancam: Mengapa CTEM Menjadi Penyelamat bagi Infrastruktur Kritis

Dua belas tahun yang lalu, insiden keamanan di Bendungan Bowman membuka mata dunia tentang betapa rentannya sistem air kita. Walaupun kejadian itu sudah lama berlalu, kenyataannya sedikit sekali perubahan yang terjadi. Teknologi semakin maju, pelaku kejahatan siber semakin cerdas, dan risiko semakin besar. Namun, pertahanan kita terhadap serangan justru masih tertinggal. Saat ini, dibutuhkan sedikit sekali usaha untuk menyebabkan kerusakan besar. Satu perubahan pengaturan pada sistem SCADA saja bisa membuat air minum menjadi berbahaya. Gangguan kecil pada fasilitas pengolahan air limbah dapat mengubah limbah menjadi ancaman biologis. Ini bukan sekadar teori—kejadian seperti ini telah terbukti bisa terjadi. Apalagi sekarang, dengan adanya AI yang memperkuat kemampuan penyerang, mereka dapat membuat celah keamanan langsung di tingkat kode dan melakukan serangan dalam skala besar. Sementara itu, tim keamanan masih berjuang mengejar ketertinggalan. Negara-Negara Mulai Menjadikan Air sebagai Target Serangan Contoh paling jelas terlihat di Eropa. Kelompok peretas yang terkait dengan Rusia berulang kali menyerang infrastruktur air—membuka katup, membanjiri sistem, bahkan memamerkan akses mereka di media sosial. Di Polandia, perusahaan air menerima hingga 300 serangan per hari, tiga kali lipat dari tahun lalu. Intelijen Norwegia mengonfirmasi bahwa peretas pernah mengendalikan katup bendungan selama hampir empat jam. Di Amerika Serikat, para peretas yang diduga berasal dari Rusia menyebabkan tangki air di Texas meluap pada tahun 2024. Ini bukan sekadar serangan iseng. Ini adalah “tes kapasitas”—mencari titik lemah pada sistem penting, terutama di kota kecil yang anggaran keamanannya terbatas. Setiap serangan yang berhasil merusak kepercayaan publik dan menunjukkan betapa lemahnya sistem air yang kita andalkan. Mengapa “Inventaris Aset” Tidak Lagi Cukup Beberapa minggu lalu, CISA kembali menyerukan agar semua operator infrastruktur kritis membuat inventaris aset OT yang lengkap. Ini memang penting, tetapi harus diakui bahwa pelaku serangan dan pakar keamanan sebenarnya sudah melangkah jauh ke depan. Inventaris aset hanya memberi tahu apa saja perangkat yang ada. Namun itu tidak menjelaskan mana yang rentan, bagaimana perangkat-perangkat tersebut terhubung, risiko mana yang paling berbahaya, dan jalur mana yang mungkin digunakan penyerang untuk bergerak dalam jaringan. Sementara itu, AI yang digunakan penyerang berkembang jauh lebih cepat. Negara-negara menggunakan AI untuk menemukan kelemahan dengan kecepatan yang tidak bisa ditandingi manusia, membuat malware yang sulit dikenali, bahkan menyisipkan kode berbahaya ke dalam proyek open-source. Jika tim keamanan masih sibuk mencatat daftar aset, berarti mereka sudah tertinggal jauh. CTEM: Model yang Kita Butuhkan Sekarang Di sinilah peran Cyber Threat Exposure Management (CTEM). CTEM bukan sekadar membuat daftar aset. CTEM bertujuan untuk menilai, memvalidasi, dan memprioritaskan risiko secara terus-menerus, sehingga fasilitas air dapat bertindak sebelum negara lain menjadikan air sebagai senjata. Berikut adalah lima praktik CTEM yang wajib diterapkan fasilitas air saat ini: 1. Visibilitas Menyeluruh Melampaui IT 80% perusahaan air mengaku tidak memiliki inventaris aset siber yang lengkap. OT dan SCADA tidak boleh dianggap “terlalu sensitif untuk disentuh.” Teknologi saat ini memungkinkan pengecekan aset secara aman tanpa mengganggu operasi. Fasilitas air membutuhkan visibilitas menyeluruh pada sistem IT, OT, IoT, dan BMS disertai konteks risiko real-time. 2. Prioritas Risiko Secara Berkelanjutan Tidak semua kerentanan sama pentingnya. Contoh: PLC pengontrol katup dengan CVE yang belum diperbaiki jauh lebih berbahaya dibandingkan pelanggaran password di komputer kantor. CTEM memastikan risiko diprioritaskan berdasarkan dampaknya pada keselamatan dan ketersediaan air. 3. Validasi Jalur Serangan Negara-negara mencoba menembus sistem melalui jalur lateral. Fasilitas air harus melakukan hal yang sama—menguji bagaimana penyerang mungkin berpindah dari sistem IT ke OT. Pada serangan di Texas tahun 2024, peretas tidak perlu menguasai seluruh sistem; mereka hanya memanfaatkan celah antara IT dan OT untuk membuat tangki meluap. 4. Deteksi dan Threat Hunting Berbasis AI Jika penyerang menggunakan AI, maka pembela harus menggunakannya juga. Deteksi statis tidak cukup ketika serangan dapat berubah-ubah dalam hitungan detik. CTEM menyediakan kemampuan deteksi dini dan analisis berbasis AI. 5. Tata Kelola dan Rencana Ketahanan 70% fasilitas air tidak memiliki rencana respons insiden yang teruji. CTEM memastikan bahwa proses, kebijakan, dan sumber daya siap menghadapi gangguan. Ini mencakup simulasi serangan, evaluasi risiko rantai pasok, dan rencana pemulihan. Risikonya Terlalu Besar untuk Diabaikan Air adalah sumber kehidupan. Tetapi dalam era konflik siber antarnegara, air juga menjadi senjata yang paling mudah digunakan. Kita tidak bisa menunggu hingga terjadi insiden besar berikutnya untuk menyadari bahwa inventaris aset saja tidak akan menyelamatkan kita. CTEM memberi fasilitas air kerangka kerja untuk bergerak melampaui sekadar “melihat” menuju ketahanan nyata—di mana risiko dapat dipantau, diprioritaskan, dan ditangani sebelum dimanfaatkan oleh penyerang. Jika fasilitas air tidak meningkatkan pertahanannya sekarang, para penyerang akan terus menjadikan sistem air kita sebagai tempat uji coba. Dan itu adalah risiko yang tidak boleh kita biarkan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More

Recent Posts

  • AI Mengidentifikasi Celah Keamanan dengan Solusi Armis Indonesia
  • Ancaman Perang Siber Federal, Peringatan Armis untuk IT
  • AI Native AppSec untuk Keamanan Siber yang Lebih Proaktif
  • Biaya Keamanan Siber yang Semakin Mahal bagi Perusahaan di Inggris
  • Mengapa Keamanan Aplikasi Tidak Bisa Lagi Berdiri Sendiri di Era Modern

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • May 2025

Categories

  • blog
  • Uncategorized

Armis Indonesia adalah bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

PT iLogo Indonesia

Sales & Marketing

  • (021) 53660861
  • Jl. Kebon Jeruk Raya Villa Kebon Jeruk Office F1
  • [email protected]

Support Center

  • AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk

Copyright © 2024. Armis Indonesia