Skip to content
  • Beranda
  • Armis Centrix™
    • Armis Centrix™ for Asset Management and Security
    • Armis Centrix™ for Early Warning
    • Armis Centrix™ for Medical Device Security
    • Armis Centrix™ for OT/IoT Security
    • Armis Centrix™ for OT/IoT Security (On-Prem)
    • Armis Centrix™ for Vulnerability Prioritization and Remediation
  • Armis Labs
    • Armis Asset Intelligence Engine
    • Armis Centrix™ OT/ IoT Secure Remote Access (SRA)
    • Armis Centrix™ Smart Active Querying
    • Data Sources
    • Telemetry Intelligence
  • Blog
  • Hubungi Kami

Month: March 2026

March 30, 2026March 30, 2026

2026: Saat Satu Orang Bisa Bertindak Seperti Negara dalam Dunia Siber

Cara lama dalam menjaga keamanan siber sudah tidak lagi cukup. Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang sangat cepat tidak hanya mengubah aturan, tetapi juga menghilangkan batas antara hacker individu dengan tim elite yang biasanya didukung oleh negara. Di tahun 2026, kemampuan menyerang sistem digital akan semakin “merata”. Artinya, siapa saja yang punya laptop, koneksi internet, dan niat bisa memiliki kekuatan yang dulu hanya dimiliki negara besar. Ini bukan sekadar prediksi masa depan, tapi sudah mulai terjadi sekarang. Berikut 5 perubahan besar yang akan membentuk dunia keamanan siber di tahun 2026. 1. AI Otonom Mulai Melakukan Serangan Sendiri Di tahun 2026, diperkirakan akan ada perusahaan besar yang terkena serangan siber yang dilakukan sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia secara langsung. Berbeda dengan AI biasa, jenis AI baru ini disebut “agentic AI”. AI ini bisa: Merencanakan serangan Menyesuaikan strategi Menjalankan serangan dari awal sampai akhir Contohnya, AI bisa: Memetakan semua celah keamanan dalam sebuah sistem Membuat malware yang terus berubah agar tidak terdeteksi Menentukan langkah berikutnya secara otomatis Yang dulu membutuhkan waktu berbulan-bulan dan tim besar, kini bisa dilakukan oleh satu orang dalam hitungan hari. Untuk menghadapi ini, perusahaan perlu: Membatasi dan mengawasi penggunaan AI Menggunakan sistem pertahanan otomatis berbasis AI Secara rutin mencari dan menutup celah keamanan 2. Ransomware Menjadi Bisnis Otomatis Serangan ransomware (penyanderaan data) akan berubah menjadi sistem otomatis seperti bisnis. AI bisa: Mencari target sendiri Menemukan celah baru (bahkan yang belum diketahui) Menjalankan serangan tanpa bantuan manusia Lebih canggih lagi, sistem ini bisa: Menyesuaikan enkripsi saat mendeteksi backup Menyembunyikan data yang dicuri agar tidak terdeteksi Menambah serangan DDoS jika korban tidak membayar Artinya, serangan ini berjalan terus-menerus tanpa henti. Cara mengatasinya: Simpan backup offline yang aman Terapkan sistem Zero Trust (tidak percaya siapa pun secara default) Gunakan AI untuk mendeteksi perilaku mencurigakan 3. Ancaman Komputasi Kuantum Teknologi komputasi kuantum mulai menjadi ancaman bagi sistem enkripsi saat ini. Walaupun komputer kuantum belum sepenuhnya umum, ancamannya sudah terasa. Penyerang bisa mencuri data sekarang dan membukanya di masa depan saat teknologi sudah siap (disebut “harvest now, decrypt later”). Selain itu, kombinasi AI dan simulasi kuantum bisa mempercepat proses membobol enkripsi. Solusi yang perlu dilakukan: Mulai menggunakan enkripsi yang tahan terhadap kuantum Gunakan sistem enkripsi ganda (hybrid) Pastikan sistem bisa dengan mudah mengganti metode enkripsi jika diperlukan 4. Infrastruktur Penting Jadi Target Utama Di tahun 2026, banyak infrastruktur penting seperti listrik, air, dan energi akan menjadi target utama serangan. Penyerang tidak langsung menyerang, tetapi masuk diam-diam untuk: Mengumpulkan data Memahami sistem Mempersiapkan serangan besar Mereka sering memanfaatkan: Vendor atau pihak ketiga Kelemahan di rantai pasok Dengan bantuan AI, penyerang bisa memahami hubungan kompleks antara sistem IT, OT, dan IoT untuk menciptakan gangguan besar dengan cara yang efisien. Cara melindungi: Pisahkan jaringan (segmentation) Periksa keamanan software dari vendor (SBOM) Gunakan sistem deteksi anomali khusus untuk lingkungan industri 5. Konsolidasi Sistem Keamanan Di masa lalu, perusahaan menggunakan banyak tools keamanan yang terpisah-pisah. Namun di tahun 2026, pendekatan ini tidak lagi efektif. Masalahnya: Data tersebar di banyak sistem Sulit mendeteksi ancaman dengan cepat Tim keamanan menjadi kewalahan Solusinya adalah menggunakan platform keamanan terpadu berbasis AI yang bisa: Menggabungkan semua data Menganalisis ancaman secara menyeluruh Memberikan respon otomatis Dengan cara ini: Beban kerja tim berkurang Keputusan bisa diambil lebih cepat Keamanan menjadi lebih kuat Kesimpulan: Era Baru Ancaman Berbasis AI Tahun 2026 menandai perubahan besar dalam dunia keamanan siber. AI membuat kekuatan antara penyerang dan pertahanan menjadi seimbang. Alat yang digunakan untuk menyerang juga bisa digunakan untuk bertahan. Agar bisa tetap aman, perusahaan harus: Menggunakan AI dalam sistem pertahanan Mengelola risiko secara terus-menerus Menggunakan enkripsi yang fleksibel Mengintegrasikan semua sistem keamanan Pendekatan lama yang terpisah-pisah sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem keamanan yang cepat, cerdas, dan terintegrasi. Pertanyaannya sekarang: Bagian mana dari sistem keamanan Anda yang paling belum siap menghadapi serangan berbasis AI? Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More
March 30, 2026March 30, 2026

Meningkatkan Keamanan Siber di Dunia Kesehatan di Tahun 2026

Setiap tahun, pembahasan tentang keamanan siber di sektor kesehatan terasa sama: serangan terus meningkat, ransomware makin sering terjadi, dan dampaknya sering dirasakan langsung oleh pasien. Tahun 2026 diperkirakan masih akan menghadapi tantangan yang sama. Namun, ada perubahan positif: industri mulai lebih fokus pada strategi pencegahan, bukan hanya memperbaiki kerusakan setelah serangan terjadi. Ke depan, organisasi kesehatan yang berhasil adalah yang menjadikan keamanan siber sebagai bagian penting dari operasional sehari-hari. Mereka tidak hanya fokus pada satu aspek, tetapi melihat keamanan secara menyeluruh. Untuk itu, dibutuhkan visi yang jelas, kerja sama yang kuat, dan kemampuan untuk selangkah lebih maju dari ancaman. Berikut adalah 5 tren utama yang akan membentuk masa depan keamanan siber di sektor kesehatan di tahun 2026. 1. Keamanan Siber Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis Di tahun 2026, keamanan siber tidak lagi dianggap sebagai “tambahan”, tetapi menjadi kebutuhan utama dalam menjalankan bisnis kesehatan. Artinya, semua aktivitas dalam organisasi harus selaras dengan tujuan keamanan. Bahkan, solusi keamanan harus bisa membantu meningkatkan efisiensi operasional. Misalnya: Data dari sistem keamanan bisa membantu mengatur jadwal pasien dengan lebih baik Penggunaan alat medis bisa lebih optimal Biaya operasional bisa ditekan Organisasi kesehatan akan mencari mitra keamanan yang tidak hanya kuat secara teknologi, tetapi juga mendukung tujuan bisnis jangka panjang. Dengan menjadikan keamanan sebagai tanggung jawab bersama, kerja tim akan lebih solid dan perlindungan pasien bisa lebih maksimal. 2. Kolaborasi Tim IT dan Tim Medis Semakin Penting Selama ini, tim pengelola alat medis (HTM) dan tim keamanan IT sering bekerja terpisah. Hal ini membuat komunikasi kurang efektif dan menghambat peningkatan keamanan secara menyeluruh. Di tahun 2026, kedua tim ini akan semakin bekerja sama. Tujuannya sama: Melindungi data dan sistem Memastikan alat medis bekerja dengan baik Meningkatkan efisiensi operasional Dengan keterbatasan anggaran dan tenaga kerja, kolaborasi menjadi sangat penting. Tidak bisa lagi ada tim yang bekerja sendiri. Dengan menggabungkan keahlian dari kedua tim, organisasi bisa lebih siap menghadapi risiko dan celah keamanan. 3. Pengelolaan Siklus Hidup Perangkat Secara Proaktif Pendekatan proaktif (mencegah sebelum terjadi) akan semakin penting. Salah satu caranya adalah dengan mengelola seluruh siklus hidup perangkat medis. Perangkat medis seperti alat monitor jantung atau mesin pencitraan biasanya digunakan hingga 15 tahun atau lebih. Selama masa itu, banyak hal yang harus diperhatikan: Perawatan rutin Pembaruan sistem Pengelolaan kerentanan Penggantian perangkat lama Jika tidak dikelola dengan baik, perangkat ini bisa menjadi celah keamanan. Dengan pendekatan yang terencana sejak awal, risiko bisa dikurangi sebelum menimbulkan gangguan pada layanan kesehatan. 4. Tekanan Regulasi dan Harapan Publik Semakin Tinggi Pemerintah dan masyarakat kini semakin menuntut keamanan yang lebih baik di sektor kesehatan. Banyak standar dan aturan yang harus diikuti, seperti: Framework keamanan siber Regulasi perangkat medis Standar perlindungan data Walaupun terkadang membingungkan, panduan ini penting untuk memastikan semua aspek keamanan diperhatikan. Selain itu, masyarakat berharap rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan bisa menjaga data dan keselamatan mereka, terutama saat mereka dalam kondisi rentan. Oleh karena itu, semua pihak harus ikut bertanggung jawab, mulai dari vendor, staf, hingga pimpinan organisasi. Menunjukkan bahwa sistem keamanan berjalan dengan baik akan membantu meningkatkan kepercayaan publik. 5. Tidak Hanya Fokus pada Perangkat Medis Dulu, keamanan di sektor kesehatan hanya fokus pada perangkat medis. Namun sekarang, teknologi di rumah sakit semakin luas. Selain alat medis, ada banyak sistem lain yang juga perlu diamankan, seperti: Kamera keamanan Layar informasi digital Mesin check-in pasien Sistem AC (HVAC) Sistem manajemen apotek Jika hanya fokus pada sebagian perangkat, maka akan ada banyak celah yang terlewat. Oleh karena itu, organisasi harus melihat semua aset sebagai bagian dari sistem yang perlu dilindungi. Di masa depan, istilah “keamanan perangkat medis” mungkin sudah tidak cukup lagi. Yang dibutuhkan adalah pendekatan keamanan menyeluruh untuk semua teknologi. Kesimpulan: Menuju Pendekatan Keamanan yang Lebih Modern Keamanan siber di sektor kesehatan terus berkembang dengan cepat. Di tahun 2026, keamanan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari seluruh proses pelayanan kesehatan. Untuk mencapai hal ini, organisasi perlu: Mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional Meningkatkan kolaborasi antar tim Mengelola perangkat secara menyeluruh dari awal hingga akhir Mengikuti standar dan regulasi yang ada Melindungi semua aset, bukan hanya perangkat medis Selama ini, keamanan siber sering dianggap hanya tugas tim IT. Padahal, untuk memberikan dampak nyata, semua orang harus terlibat. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, organisasi kesehatan tidak hanya bisa meningkatkan keamanan, tetapi juga memberikan layanan yang lebih baik dan aman bagi pasien. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More
March 30, 2026March 30, 2026

Bagian yang Selama Ini Hilang dalam CEM: Peran AI untuk Mengukur Dampak Bisnis

Setiap tahun, ada puluhan ribu celah keamanan (vulnerability) baru yang ditemukan. Hal ini membuat perusahaan kesulitan untuk menangani semua risiko dengan cepat. Masalahnya, banyak tools keamanan tradisional justru menghasilkan terlalu banyak notifikasi yang tidak relevan atau berulang, sehingga tim keamanan kewalahan dan sulit fokus pada hal yang benar-benar penting. Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih cerdas. Tidak cukup hanya melihat sisi teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap bisnis. Di sinilah konsep Cyber Exposure Management (CEM) yang efektif mulai berperan. Sayangnya, banyak organisasi masih kesulitan menerapkannya secara menyeluruh. Pentingnya Memahami Konteks Bisnis Bayangkan ada dua server yang memiliki celah keamanan yang sama dan sama-sama berisiko tinggi. Secara teknis, keduanya terlihat sama. Tapi bagaimana jika: Server pertama digunakan untuk website e-commerce yang menghasilkan jutaan rupiah setiap hari Server kedua hanya digunakan untuk testing internal yang tidak terlalu penting Jika server pertama diretas, dampaknya bisa sangat besar: bisnis terganggu, pelanggan kehilangan kepercayaan, dan kerugian finansial terjadi. Sedangkan jika server kedua bermasalah, dampaknya jauh lebih kecil. Contoh ini menunjukkan kelemahan pendekatan lama yang hanya fokus pada tingkat keparahan teknis. Padahal, yang lebih penting adalah dampaknya terhadap bisnis, seperti: Pendapatan Reputasi Operasional Kepatuhan terhadap regulasi Prioritas Berdasarkan Dampak Bisnis Itu Wajib 1. Penggunaan Sumber Daya Lebih Efisien Tim keamanan biasanya memiliki keterbatasan, baik dari segi waktu, tenaga, maupun anggaran. Dengan mengetahui aset mana yang paling penting bagi bisnis, perusahaan bisa fokus melindungi hal-hal yang paling krusial. Hasilnya, tim tidak lagi hanya “memadamkan kebakaran” setelah masalah terjadi, tetapi bisa mencegahnya sejak awal. 2. Respon Insiden Lebih Cepat Ketika terjadi serangan, memahami dampak bisnis dari sistem yang terkena sangat membantu dalam mengambil keputusan cepat. Tim bisa langsung tahu: Seberapa serius dampaknya Apa yang harus diprioritaskan Bagaimana cara meminimalkan kerugian Ini membantu mengurangi downtime dan kerugian finansial. 3. Mendukung Tujuan Bisnis Seringkali, manajemen atau direksi tidak terlalu memahami istilah teknis keamanan. Namun, mereka sangat memahami angka dan dampak bisnis. Dengan menjelaskan keamanan dalam bentuk potensi kerugian (misalnya: “investasi ini bisa mencegah kerugian miliaran rupiah”), maka akan lebih mudah mendapatkan dukungan dan anggaran. Tantangan Menghitung Dampak Bisnis Walaupun penting, menghitung dampak bisnis untuk setiap aset bukanlah hal mudah. Biasanya, proses ini dilakukan secara manual dengan langkah seperti: Mendata semua aset Mengumpulkan informasi Wawancara dengan tim terkait Membuat analisis menggunakan spreadsheet Masalahnya, cara ini: Memakan waktu lama Rentan kesalahan manusia Cepat menjadi tidak relevan karena kondisi bisnis terus berubah Hal ini menjadi penghambat utama dalam membangun sistem CEM yang matang. Solusi AI untuk Otomatisasi Dampak Bisnis Kabar baiknya, teknologi AI mulai mengubah cara kita mengelola risiko keamanan. Solusi berbasis AI dari Armis, seperti platform terbaru mereka, memungkinkan perusahaan untuk: 1. Menemukan dan Memetakan Aset Secara Otomatis Sistem dapat mendeteksi semua perangkat yang terhubung dan membuat daftar aset secara otomatis dan selalu terbarui. 2. Memahami Hubungan Antar Sistem AI bisa melihat hubungan antara perangkat, aplikasi, dan proses bisnis. Ini penting untuk mengetahui efek berantai jika satu sistem bermasalah. 3. Memprediksi Dampak Bisnis Secara Real-Time Dengan machine learning, sistem bisa memperkirakan dampak finansial, operasional, dan reputasi dari suatu celah keamanan secara langsung. 4. Memberikan Rekomendasi Tindakan Tim keamanan akan mendapatkan daftar prioritas berdasarkan: Tingkat risiko teknis Dampak terhadap bisnis Sehingga mereka bisa fokus pada ancaman yang paling berbahaya. 5. Menentukan Aset Paling Kritis dengan Mudah Sistem juga memberikan rekomendasi perangkat mana yang paling penting. Tim hanya perlu meninjau dan menetapkannya sebagai “kritis” dengan cepat. Manfaat Besar bagi Tim Keamanan Dengan adanya otomatisasi ini: Tim tidak lagi sibuk mengumpulkan data manual Bisa fokus pada strategi dan pencegahan Memiliki gambaran risiko yang lebih jelas dan akurat Pendekatan Baru: Risiko Berbasis Konteks Bisnis Pendekatan modern dalam CEM tidak hanya melihat “apa” aset itu, tetapi juga: Apa fungsinya Siapa yang menggunakannya Seberapa penting bagi bisnis Dengan pemahaman ini, perusahaan bisa mengambil keputusan keamanan yang lebih tepat dan berdampak besar. Kesimpulan Zaman di mana semua celah keamanan dianggap sama sudah berakhir. Pendekatan lama yang hanya menambah jumlah tim atau alat juga tidak lagi efektif. Untuk menghadapi ancaman yang semakin canggih, perusahaan harus: Memprioritaskan risiko berdasarkan dampak bisnis Menggunakan AI untuk otomatisasi dan analisis Fokus pada perlindungan aset yang paling penting Dengan pendekatan ini, keamanan tidak hanya menjadi tugas teknis, tetapi menjadi bagian penting dari strategi bisnis. Dan kabar baiknya, dengan bantuan AI, semua ini bukan lagi sekadar konsep, tetapi sudah bisa diterapkan sekarang. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More
March 30, 2026March 30, 2026

Ketahanan Operasional yang Diperbarui: Peran CTEM, AI, dan Kontrol Akses dalam Keamanan OT

Selama bertahun-tahun, keamanan sistem operasional (OT) dan sistem fisik berbasis teknologi tertinggal dibandingkan sistem IT. Banyak sistem OT sulit diperbarui, tidak fleksibel, dan sangat bergantung pada kestabilan operasional sehingga sulit untuk diperbaiki atau dimodernisasi. Namun, memasuki tahun 2026, kondisi ini mulai berubah. Ancaman semakin canggih, terutama dengan hadirnya AI yang digunakan oleh penyerang. Selain itu, risiko dari rantai pasok (supply chain) dan meningkatnya digitalisasi membuat keamanan OT harus berkembang. Perusahaan yang ingin bertahan harus menerapkan pendekatan baru yang disebut Continuous Threat Exposure Management (CTEM) sebagai bagian dari operasional sehari-hari. Ancaman AI Butuh Pertahanan Otomatis Saat ini, AI bukan lagi sekadar teori. Penyerang sudah menggunakannya untuk menyerang sistem secara otomatis, mencari celah, dan menyebarkan serangan dengan cepat. Waktu yang dibutuhkan penyerang untuk bergerak dari satu sistem ke sistem lain (breakout time) semakin singkat. Di lingkungan OT, hal ini sangat berbahaya. Namun, teknologi AI juga bisa digunakan untuk bertahan. Sistem berbasis AI dapat mendeteksi perubahan kecil dalam proses mesin yang tidak bisa dilihat manusia. Di tahun 2026, sistem ini bahkan bisa bertindak sendiri, seperti memutus akses jaringan yang terinfeksi atau meminta verifikasi ulang pengguna. Karena di dunia OT, keterlambatan beberapa menit saja bisa menyebabkan kerugian besar. CTEM Jadi Pusat Keamanan Dulu, CTEM hanya istilah baru. Sekarang, CTEM menjadi dasar utama dalam keamanan OT. CTEM berarti perusahaan terus-menerus memantau dan mengelola risiko, bukan hanya sesekali. Bedanya dengan cara lama adalah CTEM tidak hanya melihat skor kerentanan (seperti CVSS), tapi juga melihat dampaknya terhadap bisnis, keselamatan, dan operasional. Misalnya, risiko dikaitkan dengan potensi kerugian uang, bahaya bagi manusia, dan dampak terhadap regulasi. Dengan cara ini, manajemen perusahaan bisa memahami risiko keamanan dengan lebih jelas, bukan hanya angka teknis, tapi dampak nyata bagi bisnis. CTEM Butuh Kerja Sama Tim Keamanan di 2026 tidak bisa dilakukan sendiri. CTEM harus terhubung dengan sistem lain seperti firewall dan otomatisasi keamanan (SOAR). Artinya, jika ada risiko yang terdeteksi, sistem bisa langsung mengambil tindakan otomatis, seperti memblokir akses atau membatasi jaringan. Ini disebut “virtual patching”, yaitu menutup celah sementara sebelum diperbaiki secara permanen. Dengan pendekatan ini, tim keamanan tidak lagi hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi bisa mencegahnya lebih awal. Kontrol Akses yang Ketat Salah satu prinsip penting adalah least privilege atau akses minimum. Artinya, setiap orang atau sistem hanya diberi akses yang benar-benar dibutuhkan, dan hanya untuk waktu tertentu. Contohnya: Teknisi hanya mendapat akses saat bekerja (sementara) Vendor menggunakan akses dengan waktu terbatas Semua aktivitas dicatat dan diawasi Selain itu, identitas setiap pengguna atau perangkat menjadi faktor penting dalam menilai risiko. Jika ada akun yang tidak digunakan atau akses berlebihan, hal itu bisa menjadi celah keamanan. Digital Twin untuk Simulasi Teknologi digital twin adalah salinan virtual dari sistem nyata. Di tahun 2026, teknologi ini digunakan untuk latihan dan simulasi keamanan. Perusahaan bisa mencoba skenario serangan tanpa risiko ke sistem asli. Misalnya: Simulasi serangan ransomware Uji coba kebijakan akses baru Pengujian update firmware Dengan ini, tim bisa belajar dan memperbaiki sistem tanpa mengganggu produksi. Sistem Lama Tetap Dilindungi Banyak sistem OT masih menggunakan teknologi lama yang tidak bisa diperbarui. Di tahun 2026, pendekatannya bukan mengganti, tapi melindungi. Caranya: Menggunakan firewall pintar Membatasi akses jaringan (micro-segmentation) Memantau perangkat tanpa mengganggu operasional Fokusnya adalah mengurangi risiko tanpa harus mengganti semua sistem. Mengukur Keamanan dengan Dampak Bisnis Manajemen perusahaan kini tidak lagi tertarik pada jumlah celah keamanan saja. Mereka ingin tahu: Berapa kerugian yang bisa dicegah? Seberapa cepat sistem pulih saat serangan? Berapa biaya jika sistem berhenti? CTEM membantu menerjemahkan risiko teknis menjadi angka bisnis. Ini membuat keputusan investasi keamanan lebih mudah disetujui. Rantai Pasok Jadi Titik Lemah Serangan melalui vendor dan pemasok menjadi ancaman besar. Misalnya, software atau firmware yang sudah disusupi sebelum digunakan. Untuk mengatasi ini, perusahaan mulai menerapkan: Verifikasi firmware (harus asli dan aman) Transparansi komponen (SBOM) Persyaratan keamanan bagi vendor Vendor juga harus memenuhi standar keamanan, seperti pembatasan akses dan pencatatan aktivitas. Kesimpulan Di tahun 2026, batas antara IT dan OT sudah hampir hilang. Semua sistem saling terhubung dan menjadi target serangan. Untuk menghadapi ini, perusahaan harus: Menggunakan otomatisasi lebih cepat dari penyerang Mengelola risiko secara terus-menerus (CTEM) Membatasi akses dengan ketat Mengamankan rantai pasok Keamanan OT bukan lagi soal teknologi saja, tapi juga soal menjaga operasional, keselamatan, dan kepercayaan. Tahun 2026 adalah saatnya perusahaan benar-benar selangkah lebih maju dari ancaman. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!

Read More

Recent Posts

  • AI Mengidentifikasi Celah Keamanan dengan Solusi Armis Indonesia
  • Ancaman Perang Siber Federal, Peringatan Armis untuk IT
  • AI Native AppSec untuk Keamanan Siber yang Lebih Proaktif
  • Biaya Keamanan Siber yang Semakin Mahal bagi Perusahaan di Inggris
  • Mengapa Keamanan Aplikasi Tidak Bisa Lagi Berdiri Sendiri di Era Modern

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • May 2025

Categories

  • blog
  • Uncategorized

Armis Indonesia adalah bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

PT iLogo Indonesia

Sales & Marketing

  • (021) 53660861
  • Jl. Kebon Jeruk Raya Villa Kebon Jeruk Office F1
  • [email protected]

Support Center

  • AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk

Copyright © 2024. Armis Indonesia