AI deteksi celah keamanan dengan solusi Armis Indonesia.
Category: blog
Ancaman Perang Siber Federal, Peringatan Armis untuk IT
Federal cyber threats are rising. Armis can protect you.
AI Native AppSec untuk Keamanan Siber yang Lebih Proaktif
AI-Native AppSec: Solusi Keamanan Siber Proaktif.
Biaya Keamanan Siber yang Semakin Mahal bagi Perusahaan di Inggris
Sepanjang tahun 2025, ancaman siber menjadi salah satu masalah terbesar bagi perusahaan di Inggris. Serangan hacker tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga semakin mahal dampaknya. Banyak perusahaan mengalami kerugian besar akibat pencurian data, ransomware, hingga gangguan operasional yang membuat bisnis berhenti berjalan. Kondisi ini membuat banyak organisasi mulai menyadari bahwa keamanan siber bukan lagi hanya urusan tim IT, tetapi menjadi bagian penting dari strategi bisnis. Perusahaan yang tidak siap menghadapi serangan siber berisiko kehilangan uang, reputasi, bahkan kepercayaan pelanggan. Kerugian Akibat Serangan Siber Terus Meningkat Pada tahun 2025, rata-rata biaya kebocoran data di Inggris mencapai sekitar £3,78 juta atau setara puluhan miliar rupiah untuk satu insiden saja. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya dampak serangan siber bagi perusahaan modern. Beberapa perusahaan retail besar dan industri manufaktur di Inggris bahkan mengalami kerugian hingga ratusan juta poundsterling akibat serangan siber. Awalnya mungkin hanya terlihat sebagai masalah teknis, tetapi akhirnya berkembang menjadi krisis bisnis besar yang memengaruhi seluruh operasional perusahaan. Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari kehilangan data, tetapi juga dari: Gangguan operasional bisnis Hilangnya kepercayaan pelanggan Biaya pemulihan sistem Denda regulasi Penurunan reputasi perusahaan Kehilangan peluang bisnis Jumlah Serangan Siber Semakin Banyak Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris melaporkan peningkatan besar dalam jumlah serangan siber selama tahun 2025. Dalam periode satu tahun, tercatat lebih dari 200 serangan siber besar terhadap organisasi penting di Inggris. Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan, serangan terhadap infrastruktur penting seperti energi, layanan kesehatan, transportasi, dan industri strategis juga ikut meningkat. Serangan pada sektor-sektor ini bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Banyak pakar keamanan kini percaya bahwa kemampuan serangan siber dari negara-negara tertentu sudah cukup kuat untuk menyebabkan gangguan besar terhadap infrastruktur penting dunia. Ransomware Menjadi Ancaman Paling Mahal Salah satu jenis serangan yang paling merugikan adalah ransomware. Dalam serangan ini, hacker mengenkripsi data perusahaan lalu meminta tebusan agar data bisa dibuka kembali. Pada tahun 2025: Rata-rata kerugian global akibat ransomware mencapai lebih dari £4 juta per insiden Beberapa perusahaan di Inggris bahkan membayar tebusan hingga £5,6 juta Sebagian perusahaan lainnya membayar lebih besar lagi Masalahnya, membayar tebusan tidak selalu menjamin data akan kembali dengan aman. Banyak perusahaan tetap mengalami kerusakan sistem meskipun sudah membayar hacker. Selain itu, uang tebusan yang dibayar justru digunakan penjahat siber untuk mendanai serangan berikutnya. Semakin Lama Ancaman Terdeteksi, Semakin Mahal Biayanya Salah satu faktor yang membuat kerugian semakin besar adalah keterlambatan mendeteksi serangan. Data menunjukkan bahwa: Serangan yang berhasil ditemukan dalam waktu kurang dari 200 hari memiliki biaya rata-rata sekitar £2,9 juta Jika serangan baru diketahui setelah lebih dari 200 hari, kerugiannya meningkat menjadi sekitar £3,76 juta Artinya, semakin lama hacker bersembunyi di dalam sistem perusahaan, semakin besar kerusakan yang bisa mereka lakukan. Inilah alasan mengapa perusahaan modern mulai fokus pada keamanan siber yang proaktif, yaitu mendeteksi ancaman sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah besar. Banyak Perusahaan Ternyata Belum Siap Meskipun ancaman terus meningkat, banyak organisasi ternyata belum benar-benar siap menghadapi serangan siber besar. Secara global, hanya sekitar 33% pemimpin IT yang merasa perusahaannya benar-benar siap menghadapi serangan siber skala besar. Hal ini menunjukkan adanya “kesenjangan kesiapan” antara ancaman nyata di lapangan dengan kemampuan perusahaan dalam melindungi diri. Banyak organisasi masih menggunakan pendekatan lama yang bersifat reaktif, yaitu baru bertindak setelah serangan terjadi. Padahal, model seperti ini sudah tidak cukup lagi menghadapi ancaman modern yang bergerak sangat cepat. Apa Itu Cyber Exposure Management (CEM)? Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak perusahaan mulai menerapkan pendekatan baru bernama Cyber Exposure Management atau CEM. Secara sederhana, CEM adalah strategi keamanan yang membantu perusahaan memahami: Aset digital apa saja yang dimiliki Sistem mana yang paling berisiko Ancaman apa yang sedang aktif Prioritas perbaikan yang paling penting CEM bekerja dengan menggabungkan visibilitas, analisis risiko, dan tindakan perbaikan dalam satu sistem yang terintegrasi. Pendekatan ini membantu perusahaan berpindah dari keamanan yang reaktif menjadi proaktif. Peran AI dalam Keamanan Siber Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga mulai membantu perusahaan meningkatkan keamanan siber mereka. Data menunjukkan bahwa perusahaan yang menggunakan sistem keamanan berbasis AI mengalami biaya kebocoran data yang lebih rendah dibanding perusahaan yang belum menggunakannya. Rata-rata: Perusahaan dengan bantuan AI mengalami kerugian sekitar £2,6 juta Perusahaan tanpa AI mengalami kerugian sekitar £4 juta AI membantu dengan cara: Memantau ancaman secara otomatis Mendeteksi aktivitas mencurigakan lebih cepat Membantu analisis risiko Mempercepat respons saat terjadi serangan Dengan bantuan AI, perusahaan bisa mengurangi waktu deteksi dan meminimalkan dampak kerusakan. Keamanan Siber Menjadi Prioritas Utama di 2026 Memasuki tahun 2026, perusahaan di Inggris mulai menyadari bahwa keamanan siber bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Organisasi yang memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh sistem IT, cloud, IoT, dan operasional mereka akan lebih siap menghadapi ancaman modern. Perusahaan juga mulai memahami bahwa investasi pada keamanan siber sebenarnya jauh lebih murah dibanding biaya kerugian akibat serangan. Kesimpulan Ancaman siber di Inggris terus meningkat baik dari sisi jumlah maupun dampak finansialnya. Serangan ransomware, kebocoran data, dan gangguan sistem kini menjadi risiko besar bagi perusahaan modern. Banyak organisasi mulai beralih ke pendekatan keamanan yang lebih proaktif seperti Cyber Exposure Management (CEM) dan penggunaan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi serta respons terhadap ancaman. Di era digital saat ini, keamanan siber bukan hanya soal melindungi data, tetapi juga menjaga kelangsungan bisnis, reputasi perusahaan, dan kepercayaan pelanggan. armis Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Mengapa Keamanan Aplikasi Tidak Bisa Lagi Berdiri Sendiri di Era Modern
Saat ini hampir semua perusahaan bergantung pada software atau aplikasi untuk menjalankan bisnisnya. Bukan hanya aplikasi utama yang digunakan pelanggan, tetapi juga berbagai sistem kecil di belakang layar seperti API, microservices, tools internal, script otomatis, hingga kode yang dibuat menggunakan AI. Software kini ada di mana-mana, dan jumlahnya terus bertambah dengan sangat cepat. Namun ada satu masalah besar yang mulai muncul di dunia keamanan siber modern: keamanan aplikasi atau Application Security (AppSec) masih sering bekerja sendiri dan terpisah dari sistem keamanan perusahaan secara keseluruhan. Padahal di era digital seperti sekarang, pendekatan itu sudah tidak lagi cukup aman. Dunia Software Berkembang Sangat Cepat Beberapa tahun lalu, aplikasi perusahaan biasanya lebih sederhana. Jumlahnya sedikit, proses pembuatannya lebih lambat, dan keamanan lebih mudah dikontrol. Sekarang semuanya berubah drastis. Developer membuat software lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan dengan bantuan AI, ribuan baris kode bisa dibuat hanya dalam hitungan menit. Di dalam perusahaan modern sekarang ada banyak sekali komponen digital seperti: API untuk menghubungkan sistem Microservices Aplikasi internal Script otomatis Plugin tambahan Software pihak ketiga Kode hasil AI Semua komponen ini sebenarnya menjadi “permukaan serangan” baru bagi hacker. Semakin banyak software yang digunakan, semakin besar pula risiko keamanan yang muncul. Masalah Besar: Keamanan Aplikasi Masih Terisolasi Walaupun software berkembang sangat cepat, banyak tim keamanan aplikasi masih bekerja secara terpisah. Biasanya mereka memiliki: Tools sendiri Dashboard sendiri Tim sendiri Proses sendiri Daftar masalah keamanan yang terus menumpuk Dulu cara ini mungkin masih cukup efektif. Namun sekarang, kondisi tersebut justru menjadi titik lemah besar dalam keamanan perusahaan. Mengapa? Karena keamanan aplikasi tidak lagi bisa dipisahkan dari keamanan seluruh sistem perusahaan. Jika AppSec bekerja sendiri tanpa terhubung dengan sistem keamanan utama, banyak ancaman bisa lolos tanpa terdeteksi. AI Membuat Situasi Semakin Rumit Perkembangan AI menjadi salah satu faktor terbesar yang mengubah dunia software. AI memang membantu developer bekerja lebih cepat, tetapi di sisi lain juga menciptakan tantangan keamanan baru. Masalahnya adalah: AI bisa membuat kode lebih cepat daripada manusia memeriksanya Banyak kode dibuat otomatis tanpa pemeriksaan keamanan mendalam Hacker juga mulai menggunakan AI untuk mencari celah keamanan Serangan software supply chain semakin meningkat Software supply chain adalah seluruh komponen tambahan yang digunakan aplikasi, seperti library, plugin, dan dependency. Saat ini hacker tidak hanya menyerang aplikasi utama, tetapi juga menyerang komponen pendukungnya. Bahkan terkadang plugin atau library pihak ketiga justru lebih berbahaya dibanding kode utama aplikasi itu sendiri. Keamanan Aplikasi Tidak Cukup Hanya “Mendeteksi” Masalah lain adalah banyak tools keamanan aplikasi masih menggunakan pendekatan lama. Mereka hanya fokus mencari pola ancaman yang sudah dikenal sebelumnya. Cara kerja ini mirip antivirus zaman dulu: Mencari virus berdasarkan tanda yang sudah diketahui Jika ancamannya baru, sistem sering gagal mendeteksi Di era AI dan serangan modern, pendekatan seperti ini sudah tidak cukup. Karena hacker sekarang mampu membuat ancaman baru yang terus berubah dan tidak selalu memiliki pola yang sama. Itulah sebabnya keamanan aplikasi sekarang harus berubah dari sekadar “mendeteksi masalah” menjadi sistem manajemen risiko yang lebih pintar. Pertanyaan yang Harus Dijawab Sistem Keamanan Modern Keamanan aplikasi modern harus mampu menjawab pertanyaan penting seperti: Seberapa berbahaya celah keamanan ini? Apakah celah ini benar-benar bisa dimanfaatkan hacker? Sistem bisnis mana yang terdampak? Apakah masalah ini harus diperbaiki sekarang juga? Siapa yang bertanggung jawab memperbaikinya? Tanpa konteks seperti ini, tim keamanan hanya akan tenggelam dalam ribuan notifikasi yang membingungkan. Developer juga sering kesulitan memahami mana masalah yang benar-benar penting. Keamanan Modern Harus Sesuai Cara Kerja Developer Saat Ini Saat ini perusahaan membutuhkan sistem keamanan aplikasi yang lebih modern dan praktis. Artinya sistem keamanan harus mampu: Melindungi seluruh software supply chain Memahami kode yang dibuat AI Menemukan ancaman baru meskipun belum ada polanya Memberikan konteks risiko secara jelas Otomatis mengarahkan masalah ke tim yang tepat Mudah digunakan developer Tujuan utamanya adalah membuat keamanan menjadi bagian alami dari proses pengembangan software, bukan hambatan tambahan. Dampak Positif Jika Dilakukan dengan Benar Jika keamanan aplikasi benar-benar terintegrasi dengan sistem keamanan perusahaan secara keseluruhan, manfaatnya sangat besar. Beberapa keuntungan utamanya antara lain: Risiko Kebocoran Data Menurun Masalah keamanan bisa diperbaiki lebih awal sebelum mencapai pelanggan atau sistem produksi. Developer Bisa Bekerja Lebih Cepat Developer tidak lagi dibanjiri notifikasi yang tidak penting. Biaya Operasional Lebih Rendah Perusahaan tidak perlu menggunakan terlalu banyak tools keamanan yang terpisah-pisah. Kerja Sama Tim Lebih Baik Tim keamanan dan developer memiliki pemahaman risiko yang sama sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Masa Depan Keamanan Aplikasi Keamanan aplikasi masa depan bukan lagi sistem yang berdiri sendiri. Keamanan harus menjadi bagian langsung dari proses bisnis dan pengembangan software sehari-hari. Pendekatan modern akan menggabungkan: AI Otomatisasi Analisis risiko Monitoring real-time Integrasi penuh dengan sistem perusahaan Inilah alasan mengapa banyak perusahaan teknologi mulai membangun platform keamanan terpadu seperti Armis Centrix™ for Application Security. Platform seperti ini mencoba menghubungkan keamanan aplikasi dengan seluruh sistem keamanan perusahaan agar semua ancaman dapat dipantau dari satu tempat. Kesimpulan Dunia software berkembang sangat cepat, terutama sejak hadirnya AI. Sayangnya, banyak sistem keamanan aplikasi masih menggunakan cara lama yang tidak lagi cukup menghadapi ancaman modern. Keamanan aplikasi sekarang tidak boleh lagi bekerja sendiri atau terisolasi. Semua sistem harus saling terhubung agar perusahaan bisa memahami risiko secara menyeluruh. Di masa depan, perusahaan yang berhasil bukan hanya yang mampu membuat software lebih cepat, tetapi juga yang mampu menjaga keamanan software tersebut sejak awal proses pengembangan. Karena di era digital modern, keamanan aplikasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama bagi setiap organisasi. armis Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
NIST Menyadari Realita Baru Dunia Siber: Sistem Transportasi yang Selalu Bergerak dan Tidak Pernah Diam
Selama lebih dari 10 tahun terakhir, pemerintah dan berbagai perusahaan besar di dunia terus berusaha memperkuat keamanan siber pada infrastruktur penting seperti energi, kesehatan, utilitas, dan layanan keuangan. Namun ada satu sektor yang cukup tertinggal dalam hal perlindungan keamanan digital, yaitu sektor transportasi. Padahal saat ini sistem transportasi semakin modern, semakin terhubung ke internet, dan semakin bergantung pada teknologi digital. Kondisi ini membuat sektor transportasi menjadi target empuk bagi serangan siber. Karena itulah NIST (National Institute of Standards and Technology) mulai memperkenalkan pendekatan baru untuk membantu sektor transportasi menghadapi ancaman keamanan digital yang terus berkembang. Transportasi Kini Menjadi Infrastruktur yang Sangat Kritis Transportasi bukan hanya soal kendaraan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sistem ini berkaitan langsung dengan keselamatan manusia, layanan darurat, hingga stabilitas ekonomi sebuah negara. Jika terjadi serangan siber pada sistem transportasi seperti kereta, bandara, atau sistem lalu lintas, dampaknya bisa sangat besar. Tidak hanya menyebabkan gangguan operasional, tetapi juga bisa membahayakan nyawa manusia. Contoh nyata terjadi pada September 2025 di Eropa. Sebuah serangan siber menyerang platform Collins Aerospace MUSE, yaitu layanan pihak ketiga yang digunakan banyak bandara besar di Eropa. Akibat serangan tersebut, sistem check-in dan boarding elektronik lumpuh total. Banyak maskapai terpaksa kembali menggunakan proses manual. Bahkan pelaku serangan mengklaim berhasil mencuri data sekitar 1,5 juta penumpang. Kasus ini menunjukkan bahwa sistem transportasi modern memiliki risiko yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Mengapa Sistem Transportasi Sangat Rentan? Salah satu masalah utama adalah banyak sistem transportasi menggunakan teknologi lama atau legacy system yang sebenarnya tidak dirancang untuk menghadapi ancaman internet modern. Selain itu, banyak perangkat transportasi sekarang bergantung pada koneksi nirkabel atau wireless. Mulai dari sistem komunikasi kereta, pengaturan lalu lintas, hingga kontrol operasional bandara. Berbeda dengan kantor biasa, sistem transportasi juga memiliki karakteristik unik karena banyak perangkatnya terus bergerak dan aktif sepanjang waktu. Hal ini membuat proses perbaikan keamanan atau patching menjadi lebih sulit dilakukan. Operator transportasi tidak bisa sembarangan mematikan sistem karena layanan harus terus berjalan. Kondisi inilah yang membuat hacker tertarik menyerang sektor transportasi. Mereka memanfaatkan celah keamanan, perangkat yang tidak terpantau, serta sistem lama yang sulit diperbarui. Perubahan Cara Pandang Keamanan Siber Hal paling menarik dari framework baru NIST bukan hanya karena aturan ini dibuat, tetapi karena cara pandangnya berubah. Sebelumnya, banyak organisasi hanya fokus bereaksi setelah serangan terjadi. Pendekatan lama biasanya bertanya: “Apakah ada hacker yang sudah masuk ke sistem?” Sekarang pendekatannya berubah menjadi lebih proaktif dengan pertanyaan: “Bagian mana yang paling rentan dan paling berbahaya jika diserang?” Inilah yang disebut proactive exposure management atau manajemen risiko proaktif. Pendekatan baru ini tidak lagi menunggu serangan terjadi, tetapi mencoba menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan hacker. Keamanan Siber dan Keselamatan Fisik Kini Tidak Bisa Dipisahkan NIST juga menekankan bahwa keamanan digital dan keselamatan fisik sekarang saling berkaitan erat. Jika sistem transportasi terganggu akibat serangan siber, dampaknya bisa langsung terasa di dunia nyata. Misalnya: Kereta berhenti mendadak Sistem sinyal rusak Layanan darurat terlambat Penumpang terlantar Kontrol lalu lintas terganggu Karena itu, keamanan siber tidak lagi hanya urusan tim IT, tetapi menjadi bagian penting dari keselamatan publik. Bahkan beberapa lembaga pemerintah seperti Federal Transit Administration di Amerika Serikat kini mewajibkan operator transportasi memiliki program khusus untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko siber. Pentingnya Visibilitas dan Pemantauan Sistem Salah satu masalah terbesar dalam keamanan siber adalah kurangnya visibilitas atau kemampuan melihat seluruh perangkat yang terhubung dalam sistem. Banyak organisasi tidak benar-benar tahu perangkat apa saja yang aktif di jaringan mereka. Celah inilah yang sering dimanfaatkan hacker. Perangkat IoT, sistem operasional lama, hingga perangkat tanpa pengawasan menjadi titik lemah yang sangat berbahaya. Framework NIST menekankan pentingnya memahami seluruh aset digital yang dimiliki, terutama sistem penting seperti: Sistem sinyal transportasi Sistem komunikasi Pusat kontrol Sistem dispatching Perangkat pengatur operasional Organisasi harus tahu perangkat mana yang paling penting dan mana yang paling berisiko jika diserang. Keamanan tidak cukup hanya mengetahui merek dan tipe perangkat. Yang lebih penting adalah memahami apakah perangkat tersebut aman, rentan, atau sudah memiliki celah keamanan. Fokus Baru: Pencegahan Sebelum Serangan Terjadi Framework baru dari NIST sebenarnya tidak menawarkan solusi instan. Namun justru itulah yang membuatnya penting. NIST mencoba membangun pola pikir baru bahwa keamanan siber harus dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya ketika terjadi masalah. Organisasi yang berhasil menghadapi ancaman siber biasanya memiliki beberapa hal berikut: Pemantauan sistem secara real-time Prioritas risiko yang jelas Deteksi dini ancaman Kerja sama antar tim Perlindungan berkelanjutan Pendekatan ini membantu organisasi menemukan masalah lebih awal sebelum berubah menjadi serangan besar. Masa Depan Keamanan Siber di Transportasi Seiring perkembangan teknologi digital, sistem transportasi akan semakin terhubung dan semakin kompleks. Karena itu, ancaman siber juga akan terus meningkat. Framework dari NIST menjadi tanda bahwa dunia mulai menyadari pentingnya melindungi sektor transportasi secara lebih serius. Ke depan, keamanan siber bukan lagi sekadar perlindungan data, tetapi juga perlindungan terhadap keselamatan manusia dan stabilitas layanan publik. Dengan pendekatan yang lebih proaktif, organisasi transportasi dapat mengurangi risiko serangan, menjaga operasional tetap berjalan, dan memastikan keselamatan penumpang tetap terjaga. Di era digital modern, menjaga keamanan sistem transportasi sama pentingnya dengan menjaga jalan raya, rel kereta, atau bandara itu sendiri. armis Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Perubahan Strategi Keamanan Siber di Dunia Kesehatan Tahun 2026: Fokus Utama pada Keselamatan Pasien
Selama beberapa tahun terakhir, industri kesehatan terus menghadapi ancaman serangan siber yang semakin serius. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan kini menggunakan banyak teknologi digital untuk mempercepat layanan pasien, mulai dari rekam medis elektronik, alat medis pintar, hingga sistem pemantauan pasien secara online. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul risiko baru yang sangat besar. Serangan ransomware, pencurian data pasien, dan gangguan pada perangkat medis kini menjadi ancaman nyata bagi rumah sakit di seluruh dunia. Banyak organisasi kesehatan sebelumnya hanya bersifat “reaktif”, yaitu baru bertindak setelah serangan terjadi. Namun pada tahun 2026, mulai terjadi perubahan besar. Organisasi layanan kesehatan atau Healthcare Delivery Organizations (HDOs) kini mulai beralih ke strategi keamanan yang lebih proaktif demi melindungi keselamatan pasien sebelum serangan terjadi. Berikut adalah lima fokus utama yang kini menjadi prioritas rumah sakit modern dalam meningkatkan keamanan siber mereka. 1. Memahami Konteks Medis, Bukan Sekadar Data Teknologi Sistem keamanan tradisional biasanya memperlakukan semua perangkat sama saja. Printer kantor dan alat infus pasien sering dianggap memiliki tingkat risiko yang sama. Padahal dalam dunia kesehatan, alat medis memiliki dampak langsung terhadap keselamatan manusia. Karena itu, rumah sakit modern kini mulai menggunakan pendekatan yang lebih cerdas dengan memahami fungsi klinis setiap perangkat. Misalnya, alat pemantau jantung tentu jauh lebih penting dibanding perangkat administrasi biasa. Dengan memahami konteks medis ini, tim keamanan dapat lebih fokus melindungi perangkat yang benar-benar penting untuk perawatan pasien. Mereka tidak lagi membuang waktu memperbaiki masalah kecil yang tidak berpengaruh besar terhadap layanan kesehatan. Pendekatan ini membantu rumah sakit mengurangi risiko yang benar-benar bisa mengganggu keselamatan pasien. 2. Prioritas pada Risiko yang Berdampak ke Pasien Satu rumah sakit besar bisa memiliki puluhan ribu celah keamanan atau kerentanan sistem. Mustahil memperbaiki semuanya sekaligus. Karena itu, rumah sakit kini mulai memprioritaskan ancaman yang benar-benar berbahaya bagi pasien. Pendekatan baru ini disebut patient-centric risk assessment atau penilaian risiko berbasis pasien. Artinya, tim keamanan akan fokus pada kerentanan yang dapat mengganggu operasi medis penting, alat ICU, atau sistem darurat rumah sakit. Contohnya, jika ada satu perangkat medis yang belum diperbarui sistem keamanannya dan berpotensi mengganggu operasi pasien, maka itulah yang akan diprioritaskan dibanding masalah kecil lainnya. Cara ini membuat pekerjaan tim IT dan keamanan menjadi lebih efektif karena mereka fokus pada ancaman paling kritis. 3. Menghubungkan Tim IT dan Teknisi Medis Dulu, tim IT dan teknisi alat kesehatan sering bekerja sendiri-sendiri. Tim IT fokus pada jaringan komputer, sementara teknisi medis hanya fokus memperbaiki alat rumah sakit. Sekarang, rumah sakit mulai menyadari bahwa keamanan siber harus menjadi tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara tim keamanan IT dan teknisi medis sangat penting untuk melindungi seluruh perangkat kesehatan. Pendekatan ini membantu rumah sakit mengawasi perangkat sejak pertama dibeli, digunakan, hingga akhirnya diganti. Semua pihak mendapatkan informasi yang sama sehingga bisa bertindak lebih cepat jika ada ancaman. Dengan kerja sama yang lebih baik, rumah sakit tidak lagi hanya bereaksi terhadap alarm keamanan, tetapi mulai mampu mencegah masalah sebelum terjadi. 4. Perbaikan Masalah yang Lebih Cepat dan Otomatis Menemukan ancaman saja tidak cukup. Rumah sakit juga harus bisa memperbaiki masalah dengan cepat sebelum dimanfaatkan oleh hacker. Karena itu, banyak organisasi kesehatan kini menggunakan sistem otomatis untuk mempercepat proses perbaikan keamanan. Sistem modern dapat langsung memberi tugas kepada tim yang bertanggung jawab ketika ditemukan risiko tertentu. Teknologi otomatisasi ini membantu mempercepat Mean Time to Remediation (MTTR), yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki masalah keamanan. Dengan proses yang lebih cepat, rumah sakit dapat menutup celah keamanan sebelum hacker sempat menyerang. Selain meningkatkan keamanan, sistem otomatis juga membantu operasional rumah sakit menjadi lebih efisien karena pekerjaan manual berkurang drastis. 5. Pemantauan Real-Time dan Perlindungan Proaktif Rumah sakit beroperasi selama 24 jam nonstop. Gangguan kecil saja bisa berdampak besar terhadap layanan pasien. Karena itu, organisasi kesehatan kini mulai beralih dari strategi reaktif menjadi proaktif. Sistem keamanan modern harus mampu memantau seluruh perangkat secara real-time dan mendeteksi perubahan perilaku sekecil apa pun. Perubahan kecil ini bisa menjadi tanda awal adanya serangan siber. Dengan pemantauan terus-menerus, rumah sakit dapat mendeteksi ancaman lebih cepat dan menghentikan serangan sebelum mencapai sistem penting atau perangkat medis pasien. Pendekatan ini menjadi perubahan besar dalam dunia keamanan siber kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya “memadamkan kebakaran”, tetapi mulai membangun sistem perlindungan yang aktif menjaga seluruh lingkungan medis setiap saat. Masa Depan Keamanan Siber di Dunia Kesehatan Perjalanan menuju keamanan siber yang matang memang tidak mudah. Banyak rumah sakit masih menghadapi keterbatasan anggaran, perangkat lama, dan kompleksitas teknologi yang terus berkembang. Namun perubahan strategi yang mulai fokus pada keselamatan pasien membawa harapan besar bagi masa depan industri kesehatan. Tujuan utama kini bukan hanya melindungi data, tetapi memastikan layanan medis tetap berjalan tanpa gangguan. Rumah sakit ingin mencegah serangan sebelum terjadi, menjaga operasi tetap aman, dan memastikan pasien mendapatkan pelayanan terbaik tanpa terganggu ancaman teknologi. Di masa depan, keamanan siber akan menjadi bagian penting dari layanan kesehatan modern. Teknologi tidak hanya digunakan untuk membantu pengobatan, tetapi juga untuk memastikan seluruh sistem rumah sakit tetap aman dari serangan digital. Dengan pendekatan yang lebih proaktif, rumah sakit dapat menciptakan lingkungan kesehatan yang lebih aman, stabil, dan siap menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. armis Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi armis. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Membangun Generasi Baru Keamanan Siber: Dari Perlindungan Perangkat ke Aksi Cerdas
Pengumuman terbaru bahwa Armis akan bergabung dengan ServiceNow bukan hanya penting dari sisi bisnis, tetapi juga dari sisi teknologi. Kolaborasi ini membuka peluang besar untuk membangun pendekatan baru dalam dunia keamanan siber yang semakin kompleks. Tantangan Keamanan Siber Semakin Kompleks Selama beberapa tahun terakhir, tantangan di bidang keamanan siber telah berubah drastis. Dulu, fokus utama hanya pada perangkat IT seperti komputer dan server. Sekarang, cakupannya jauh lebih luas—meliputi: OT (Operational Technology) IoT (Internet of Things) Perangkat medis Cloud dan software Identitas digital pengguna Di saat yang sama, baik penyerang maupun tim keamanan kini sama-sama memanfaatkan AI (Artificial Intelligence) untuk bekerja lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar. Masalahnya, banyak organisasi sebenarnya sudah memiliki banyak tools keamanan dan data. Namun yang kurang adalah kejelasan (clarity) dan keterpaduan (cohesion). Data dan alert yang dihasilkan sering terpisah-pisah, sehingga sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Akibatnya, tim keamanan sering menghadapi pertanyaan yang sama: Aset mana yang paling penting? Bagaimana risiko bisa menyebar di sistem? Apa langkah tercepat untuk mengurangi risiko sebelum menjadi serangan besar? Dari Sekadar Visibilitas ke Pemahaman Risiko Di sinilah peran Armis dan ServiceNow menjadi sangat penting. Armis fokus memberikan visibilitas secara real-time terhadap semua aset yang terhubung—tanpa perlu menginstal agent tambahan. Mereka bisa melihat perilaku perangkat, celah keamanan, dan potensi risiko. Sementara itu, ServiceNow menyediakan sistem workflow dan database (CMDB) yang membantu memahami hubungan antara aset, proses bisnis, dan tim dalam organisasi. Ketika keduanya digabungkan, hasilnya adalah sesuatu yang jauh lebih kuat: pemahaman risiko yang kontekstual (contextualized risk). Artinya, tim keamanan tidak lagi melihat masalah secara terpisah. Mereka bisa memahami: Bagaimana satu celah bisa berdampak ke sistem lain Bagaimana penyerang bisa bergerak di dalam jaringan (lateral movement) Risiko mana yang benar-benar berdampak pada bisnis Ini membuat prioritas keamanan menjadi lebih akurat, bukan hanya berdasarkan skor teknis, tetapi berdasarkan dampak nyata. Peran AI dalam Keamanan Modern Gabungan Armis dan ServiceNow juga memungkinkan penggunaan AI secara lebih efektif dalam keamanan siber. Berikut alur pendekatan modern yang didukung AI: Penemuan Aset Secara Real-Time Semua perangkat dan identitas dalam sistem terdeteksi secara otomatis. Korelasi Konteks Data teknis digabungkan dengan konteks bisnis untuk memahami hubungan dan risiko. Prioritas Berbasis AI AI membantu menentukan mana risiko yang paling penting untuk ditangani terlebih dahulu. Respons Otomatis Sistem bisa langsung menjalankan tindakan perbaikan tanpa menunggu intervensi manual. Pendekatan ini sering disebut sebagai “AI control tower”, yaitu pusat kontrol pintar yang mengelola seluruh keamanan secara terintegrasi. Bukan Menggantikan Manusia, Tapi Membantu Penting untuk dipahami bahwa penggunaan AI bukan untuk menggantikan manusia. Justru, AI membantu tim keamanan bekerja lebih cepat dan lebih efisien. Dengan bantuan AI: Analisis data jadi lebih cepat Keputusan lebih akurat Respon terhadap ancaman bisa dilakukan dalam hitungan detik Hal ini sangat penting, karena serangan siber saat ini juga berkembang dengan sangat cepat. Persiapan Menghadapi Ancaman Berbasis AI Dunia keamanan siber sedang memasuki era baru, di mana AI digunakan oleh penyerang untuk: Menemukan celah keamanan lebih cepat Mengotomatisasi serangan Meniru perilaku manusia Untuk menghadapi ini, organisasi membutuhkan platform keamanan yang: Bisa mengolah data dalam jumlah besar Mampu menghubungkan berbagai informasi Terus belajar dan berkembang seiring waktu Dengan menggabungkan kekuatan Armis dan ServiceNow, platform keamanan bisa menjadi lebih adaptif, cerdas, dan proaktif. Dampak bagi Pelanggan Bagi pengguna, kolaborasi ini memberikan beberapa keuntungan utama: Keamanan yang lebih menyeluruh Otomatisasi proses keamanan Efisiensi operasional yang lebih tinggi Kemampuan mendeteksi dan merespons ancaman lebih cepat Yang menarik, Armis tetap akan beroperasi seperti biasa, sehingga pelanggan tidak perlu khawatir tentang perubahan besar dalam layanan. Kesimpulan Masa depan keamanan siber tidak lagi bersifat reaktif. Sistem keamanan harus mampu: Memahami seluruh aset dan risiko Mengambil keputusan secara otomatis Bertindak cepat sebelum ancaman menjadi besar Kolaborasi antara Armis dan ServiceNow adalah langkah penting menuju masa depan tersebut. Dengan pendekatan berbasis AI, integrasi data, dan otomatisasi, organisasi dapat menghadapi ancaman siber dengan lebih percaya diri. Di dunia yang semakin terhubung dan kompleks, keamanan bukan lagi pilihan—tetapi kebutuhan utama. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
2026: Mengamankan Ancaman Baru di Era AI
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia keamanan siber mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya kecerdasan buatan (AI) hanya digunakan untuk membantu pertahanan, sekarang AI juga digunakan oleh penyerang. Organisasi kriminal dan bahkan negara kini memanfaatkan AI untuk: Menemukan celah keamanan (zero-day) Melakukan serangan otomatis dalam skala besar Meniru perilaku manusia agar tidak terdeteksi Artinya, serangan siber menjadi lebih cepat, lebih pintar, dan lebih sulit dihentikan. Ini bukan lagi prediksi masa depan—ini sudah terjadi sekarang. Tantangan Utama di Tahun 2026 Masalah terbesar ke depan adalah: sistem keamanan tidak bisa lagi hanya bereaksi setelah serangan terjadi. Perusahaan harus mulai menggunakan sistem keamanan yang: Proaktif (mencegah sebelum terjadi) Cerdas (menggunakan AI) Adaptif (bisa menyesuaikan secara real-time) Keamanan juga harus mencakup semua lingkungan: IT (sistem komputer) OT (operasional industri) IoT (perangkat pintar) Perangkat medis Cloud dan aplikasi Skenario Ancaman yang Perlu Diwaspadai 1. Manipulasi Sistem Keuangan dengan AI AI bisa digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan seperti saham dan cryptocurrency. Contohnya: AI membuat berita palsu tentang perusahaan Meniru suara atau wajah CEO (deepfake) Menyebarkan laporan keuangan palsu Akibatnya, pasar bisa panik dan mengalami kerugian besar hanya dalam hitungan detik. 2. Identitas Palsu (Synthetic Identity) AI mampu membuat identitas manusia palsu yang sangat meyakinkan. Identitas ini bisa digunakan untuk: Membuka rekening bank Mengakses layanan kesehatan Membuat akun media sosial Bahkan ikut dalam sistem pemilu Masalahnya, sistem verifikasi saat ini sulit membedakan mana manusia asli dan mana yang palsu. 3. Perang Hybrid Berbasis AI AI juga bisa digunakan dalam konflik modern (hybrid warfare), yaitu kombinasi: Serangan siber Penyebaran hoaks Gangguan fisik (misalnya listrik atau transportasi) Contohnya: Sistem transportasi dimatikan dari jarak jauh Jaringan listrik disabotase Informasi palsu disebarkan secara massal Serangan ini bisa dilakukan oleh siapa saja dengan sumber daya kecil, tapi dampaknya besar. 4. Serangan pada Supply Chain (Rantai Pasok) AI bisa menyusup ke dalam software atau firmware yang digunakan banyak perusahaan. Caranya: Menyisipkan kode berbahaya yang sulit dideteksi Menyebar melalui library atau perangkat IoT Serangan ini bisa “tidur” selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum aktif. 5. Pencurian Data dan Pemerasan Hacker mulai mengumpulkan data terenkripsi sekarang untuk dibuka di masa depan (misalnya dengan komputer kuantum). Selain itu, AI bisa digunakan untuk: Menganalisis data korban Membuat skenario pemerasan yang sangat akurat Targetnya bisa perusahaan, pemerintah, bahkan individu. Apa Dampaknya untuk Teknologi dan Produk? Untuk menghadapi ancaman ini, solusi keamanan harus berubah total. Cara lama seperti: Tools terpisah (point solutions) Analisis manual Pemeriksaan berkala sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah: Sistem terpadu (integrated platform) Monitoring real-time Deteksi otomatis Respon cepat dan terkoordinasi Peran Teknologi dan AI dalam Keamanan Sistem keamanan modern harus mampu: Mengumpulkan data dari berbagai sumber Menganalisis perilaku normal vs mencurigakan Menggunakan machine learning untuk deteksi ancaman Selain itu, sistem harus terintegrasi dengan tools lain seperti: EDR (Endpoint Detection and Response) SIEM (Security Information and Event Management) SOAR (Security Orchestration Automation and Response) Tujuannya adalah mempercepat respon terhadap serangan. Pendekatan Baru: Keamanan yang Lebih Cerdas Perusahaan seperti Armis mulai mengembangkan solusi keamanan generasi baru. Contohnya platform Armis Centrix™, yang mampu: Melihat semua aset (IT, IoT, OT, dll) Mendeteksi aktivitas mencurigakan secara real-time Menggunakan AI untuk memprediksi serangan Dengan sistem seperti ini, waktu respon bisa dipangkas dari jam menjadi detik. Kenapa Ini Penting? Di masa depan: Serangan akan semakin otomatis Skala serangan akan semakin besar Kecepatan serangan semakin tinggi Jika perusahaan tidak siap, dampaknya bisa sangat besar, mulai dari kerugian finansial hingga gangguan operasional. Kesimpulan Tahun 2026 akan menjadi titik penting dalam dunia keamanan siber. AI akan menjadi “senjata utama” baik bagi penyerang maupun defender. Organisasi yang berhasil bertahan adalah yang: Menggunakan sistem keamanan proaktif Memanfaatkan AI untuk deteksi dan prediksi Mengintegrasikan semua sistem keamanan Memiliki visibilitas penuh terhadap aset mereka Keamanan bukan lagi soal bereaksi, tapi mengantisipasi. Dengan strategi yang tepat, perusahaan tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang di dunia yang semakin terhubung dan kompleks. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Priority-Zero Patching: React2Shell, Celah Kritis yang Harus Segera Ditangani
Pada 3 Desember 2025, tim Meta (pengembang React) mengumumkan sebuah celah keamanan sangat kritis dengan skor maksimal (CVSS 10.0), yang diberi kode CVE-2025-55182. Celah ini dikenal dengan nama React2Shell. Masalah ini terjadi pada fitur React Server Components (RSC), yaitu bagian React yang memungkinkan kode dijalankan di sisi server. Dampaknya sangat serius karena bisa memungkinkan hacker menjalankan perintah berbahaya langsung di server tanpa perlu login. Seberapa Besar Dampaknya? Celah ini diperkirakan mempengaruhi sekitar 82% aplikasi web modern berbasis JavaScript yang menggunakan React versi terbaru. Framework populer seperti: Next.js Waku RedwoodJS juga ikut terdampak, terutama jika menggunakan fitur RSC. Jika berhasil dieksploitasi, hacker bisa: Mengakses environment variables (data penting aplikasi) Mendapatkan password database Mengakses metadata cloud Menjalankan perintah berbahaya di server (remote code execution) Membuka akses jarak jauh (reverse shell) Karena mudah dieksploitasi dan dampaknya sangat besar, celah ini dikategorikan sebagai Priority-Zero, artinya harus diperbaiki secepat mungkin. Bagaimana Cara Serangan Ini Bekerja? Serangan dilakukan dengan cara mengirimkan request (permintaan) HTTP POST yang berisi data khusus (malformed data) ke endpoint server React. Masalah utamanya ada pada proses yang disebut deserialization, yaitu saat server membaca data dari user. Dalam kasus ini: Server menerima data dari user Data tersebut diproses tanpa validasi yang ketat Hacker menyisipkan kode berbahaya melalui teknik prototype pollution Sistem akhirnya menjalankan kode berbahaya tersebut Dengan satu request saja, hacker bisa langsung mengambil alih server. Versi yang Terkena Dampak Versi yang rentan: React: 19.0.0 – 19.2.0 Next.js: semua versi 15.x dan 16.x lama Framework lain berbasis RSC Versi yang sudah diperbaiki: React: 19.0.1, 19.1.2, 19.2.1 Next.js: 15.0.5 ke atas, 16.0.7 ke atas Apa yang Harus Dilakukan Sekarang? Langkah Darurat (0–4 Jam) Jika Anda menggunakan React atau Next.js, lakukan ini segera: Update ke versi terbaru (patch) Redeploy aplikasi Anda (Vercel, Netlify, Cloudflare, atau server sendiri) Pastikan semua instance sudah menggunakan versi aman Solusi Sementara (Jika Belum Bisa Update) Jika belum sempat patch, lakukan langkah berikut: Blok request mencurigakan di firewall (WAF) Nonaktifkan sementara fitur Server Actions Batasi akses ke endpoint tertentu Contohnya: Blok request dengan format aneh Tolak request yang mengandung kode mencurigakan seperti __proto__ Solusi Jangka Panjang Untuk keamanan ke depan: Gunakan fitur keamanan baru seperti Secure Flight Mode (akan hadir di React versi berikutnya) Audit semua endpoint server Pastikan semua akses membutuhkan autentikasi Tanda-Tanda Server Sudah Diserang Berikut beberapa indikator yang perlu diwaspadai: Request POST dengan format aneh Adanya data mencurigakan seperti __proto__ Aktivitas jaringan yang tidak biasa dari server Server tiba-tiba melakukan koneksi keluar tanpa alasan jelas Jika menemukan tanda-tanda ini, segera lakukan investigasi. Penjelasan Sederhana Masalah Teknisnya Celah ini terjadi karena kombinasi dua hal: 1. Deserialization yang tidak aman Server menerima data dari user dan langsung memprosesnya tanpa validasi yang cukup. 2. Prototype Pollution Hacker bisa “merusak” struktur dasar objek di JavaScript, sehingga semua data berikutnya ikut terpengaruh. Gabungan keduanya memungkinkan hacker: Mengambil alih fungsi sistem Menjalankan perintah OS (seperti membuka shell) Mengontrol server sepenuhnya Kenapa Ini Sangat Berbahaya? Tidak butuh login (unauthenticated) Mudah dilakukan (low complexity) Bisa otomatis (automation-friendly) Dampaknya langsung (RCE) Artinya, siapa pun yang tahu celah ini bisa langsung menyerang tanpa hambatan besar. Kesimpulan Celah React2Shell adalah salah satu kerentanan paling berbahaya di ekosistem JavaScript pada tahun 2025. Dengan kombinasi: Dampak besar Eksploitasi mudah Penggunaan luas di industri maka semua tim IT dan developer harus segera bertindak. Hal paling penting: Segera update (patch) Jangan tunda Tambahkan proteksi sementara jika perlu Monitor sistem secara aktif Di era modern, kecepatan respon terhadap celah keamanan adalah kunci. Semakin cepat Anda bertindak, semakin kecil risiko kerusakan yang terjadi. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan armis indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi armis.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!